halo teman-teman.
kalau kemarin saya menulis tentang apa yang dirasakan banyak orang, sekarang untuk pertama kalinya saya mau kalian mendengarkan saya. kalian pernah enggak ngerasa sedih banget? tapi gatau sedih karena apa. saya cuma mau tenang tanpa harus mikir apa-apa. rasanya sesak sekali, baru kemarin saya merasakan senang. saya bingung apa yang saya rasakan, sedih mungkin, marah juga bisa, tapi saya enggak mau sendirian. orang sedih enggak butuh saran, orang sedih enggak butuh pelukan untuk merasa aman, dia cuma mau didengarkan, dia cuma mau tau kalau dia enggak sendirian buat lewati semua ini. buat lewati rasa sedih yang sedang dirasakan.
empat tahun, empat tahun saya bertahan dengan ekspektasi yang saya buat sendiri dan itu cuma buat saya merasa sakit. saya capek jalan di tempat, saya terlalu menuntut sampai lupa harus menurut. selama itu saya harus terjebak dengan hal yang ternyata bukan di takdirkan untuk saya. sampai suatu pagi saya terbangun terus saya capek. saya harus kehilangan dan merelakan dalam satu waktu. karena sebenarnya saya bukan siapa-siapa. bukan salahnya, saya yang seharusnya engga pernah cari tau tentangnya lagi. yang kalaupun dia hancur itu bukan tanggung jawab saya. saya terlalu takut dia kenapa-kenapa sampai saya enggak sadar selama menyayanginya banyak kenapa-kenapa yang terjadi dalam dunia saya. saya selalu jaga perasaannya sampai saya lapa harusnya ada yang lebih penting dari itu. perasaan yang saya selamatkan dengan memilih pergi.
saya cuma mau jalan bareng, bukan jalan di belakang dia atau dia jalan di belakang saya. yang nanti kalau saya jatuh ada dia yang nolongin saya, saya enggak mau. saya mau jatuh bareng-bareng dan sama-sama bangkit, beriringan. karena hubungan itu saling, bukan paling.